Street Human ResourcesBeat a Share Street HR 

Street HR : The Movement

CHAPTER 1 : Circle of Art

(beatashare) Sering kali dalam organisasi modern, Divisi Human Resources atau HR adalah divisi yang yang sering di cap sebagai divisi “silent but deadly”. Mengapa ? karena masih banyak anggapan bahwa HR dalam aktivitasnya jarang gembar gembor seperti Marketing atau Sales, tapi bila sekalinya management meminta HR untuk muncul maka di benak Employee yang pertama kali muncul adalah “wah, pasti ada masalah ni.. “ atau “siapa yang kena pecat atau hukuman.. “ dan lain sebagainya. Dengan jargon tukang jagal atau polisi penegak aturan ada kalanya hal positif yang didapat rekan-rekan HR adalah menjadi sosok yang ditakuti. Peran seperti itu kadang dinikmati oleh beberapa rekan kita di HR, ada yang merasa risih.

Mau tahu pendapat saya? Bagi saya, emang gue pikirin J.. Kenapa saya buat pendapat seolah asal dan ngawur seperti itu, karena rasanya sangat sayang  bila energy kita tercurah hanya untuk menjelaskan pandangan orang. Satu hal dalam Organisasi modern yang sebaiknya jangan dilawan adalah pendapat orang. Pendapat orang behubungan dengan pengalaman dan rasa. Sehingga malah membuang waktu bila kita terlalu focus disana. Menurut saya, sebaiknya kita buat rencana dan mengeksekusi rencana tersebut yang berhubungan dengan bagaimana cara kita “running the Show”. Dengan kata lain ketimbang kita terjebak memikirkan pendapat orang lain, sebaiknya kita membuat suatu rencana untuk perusahaan yang impact-nya dapat dirasakan nantinya. Balik lagi, ketika rasa dan pengalaman sudah kita bagikan pada employee, maka pendapat tersebut akan berubah dengan sendirinya

Awal menggeluti bidang Human Resources

Saya menggeluti bidang Human Resources dari nol. Dari sebutan Personalia masih biasa dilontarkan untuk hal yang berhubungan dengan mengurus People di Perusahaan. Dalam sekian lama pengalaman saya, saya dipaksa dan terbiasa mengesplorasi tantangan dalam pekerjaan saya sebagai suatu karya seni yang harus dimainkan di depan penonton dan sedapat mungkin penonton terkesima dengan karya seni saya. Lho? Human Resources sebagai karya seni? Kenapa tidak? karena apabila pekerjaan kita diterjemahkan sebagai karya seni, maka kita akan mencurahkan segala kemampuan kita untuk mencipta, mengkreasi, berlatih, melakukan persiapan dan mempertontonkannya kepada khalayak ramai. Oleh karena itu, karena itu menjadi karya seni, maka saya memiliki tanggung-jawab sampai kapanpun dan dimanapun terhadap hasil karya saya. Itu membangun komitmen atas apa yang dilakukan. Tanpa harus diikat oleh waktu kerja maupun kondisi apapun. Itu yang saya pegang selama ini.

Human Resources as Game Changer

Masa depan suatu Organisasi modern ada pada People-nya. Mengapa saya lebih nyaman menggunakan kata People ketimbang Employee? Karena bagi saya People punya makna bounding yang lebih kuat dibanding Employee. Employee atau karyawan, ketika diluar waktu kerjanya maka cenderung selesai sudah effortnya bagi Organisasi. Padahal seperti yang saya sampaikan di atas bahwa hasil kerja kita adalah karya seni, maka eksplorasi terhadap Ide akan selalu berjalan walau kita berada di manapun dan dalam kondisi apapun.

Seperti cerita mengenai Hukum Newton, konon Newton menemukan ide dari teorinya ketika sedang berada di bawah pohon apel dan ada satu butir apel jatuh menimpa kepalanya dan berfikirlah Ia, mengapa apel itu bisa jatuh. Pertanyaan saya, bila Newton tidak pernah berada di bawah pohon apel, apakah tidak akan muncuk idenya? Atau bila Newton ada di bawah pohon durian atau nangka bahkan kelapa, apakah ketika buahnya jatuh menimpa kepalanya, muncul ide itu?

Legenda tersebut lebih mengarahkan kita bahwa ide bisa datang dan muncul dimana saja dan Ide tersebut  tidak dibatasi tempat dan waktu. Sehingga apa yang saya coba sampaikan disini adalah : Salah satu ilmu yang saya dapat dijalanan dalam perjalanan karir saya sebagai seorang Street HR yaitu Pekerjaan adalah seni atau mahakarya, dan karena kita menjadikan pekerjaan sebagai seni maka kreativitas kita tidak pernah memiliki batas sejauh itu positif.

Dan karena seni muncul dari hati maka komitmen dan ikatannya akan lebih dari sekedar pekerjaan. Karena kita menghargai para pelaku seni itu bukan sebagai Employee semata akan tetapi sebagai People yang berperan sebagai “Game Changer” di dalam organisasi Modern, maka terciptalah satu lingkaran roda pencipta mahakarya dari suatu Seni (Circle of Art) yang sanggup memutar Organisasi dengan tanpa Top Management cape-cape menyuruh pun, semua people yang ada dalam organisasi akan bergerak dengan Passion dan Commitment yang kuat. Yang perlu dilakukan oleh Top Managament adalah memegang kendali dan menginjak pedal gas atau rem sesuai kebutuhan.

(Penulis adalah seorang “Game Changer Activist” dalam Organisasi Perusahaan)

Share This:

Related posts

Tinggalkan Balasan