bumi dan penghuniBeat a Featured Beat a Fict 

Bumi Dan Penghuni 2

(Beat a fict|Bumi Dan Penghuni 2)
Beberapa saat kemudian, bel pun berbunyi.

Aku, Lala dan bersama teman-teman yang lain langsung berhamburan keluar dari kelas menuju ke lapangan upacara. Ratusan sepasang kaki melangkah, terdengar tak berirama.

Saat kami semua berbondong-bondong menuruni anak tangga. Secara tiba-tiba dari arah yang berlawanan trio biang kerok yaitu Tirta, Barka dan Vava, berlari menaiki tangga terburu-buru. Melihatnya sontak membuat kami semua langsung menyingkir, memeberi jalan buat mereka. Ketika mereka berlari melintas diantara kami, salah satu dari mereka  menyenggol tubuh Lala hinga terjatuh.

“Aduh.!” Lala jatuh, tersentak kaget..

Mereka pura-pura tidak mengerti atas perbuatanya, terus berlari menaiki anak tangga. Melihat Lala terjatuh karena ulah mereka, yang pastinya aku sebagai sahabatnya merasa tidak terima atas perlakuannya itu.

“Eeh kalian. Kalau jalan lihat-lihat dong.!” Kataku begitu emosi, meneriaki mereka. Entah mendengar atau tidak, mereka bertiga tetap saja terus berlari menjahui kami. Hingga membuatku langsung membentaknya.

“Woe. Kadal.!” Teriakku tertuju ke arah mereka.

Seketika mereka langsung berhenti, menoleh ke arahku.

“Apa yang kamu bilang.!” Vava kembali berjalan menuruni anak tangga menghampiriku, diikuti dua temannya dari belakang.

“Coba ulangi lagi apa yang kamu katakan.!” Mereka menujuk-nunjuk ke arahku.

“Kalian kadal.! Seharusnya kalian meminta maaf apa yang telah kalian perbuat sama Lala.” Tunjukku ke arah mereka.

Melihat perseteruanku dengan tiro biang kerok itu, seluruh teman yang ada di tangga hanya terdiam saja. Tidak ada yang mencoba membantuku untuk melawanya. Melainkan seluruh teman-teman merangsek menjahui mereka. Nampaknya mereka semua tidak ada yang ingin mempunyai urusan dengan tiga biang kerok itu atau mungkin bisa jadi mereka takut. Karena teman-teman tahu, jika mempunyai urusan dengan trio biang kerok itu, mereka pasti akan selalu menganiayanya..

“Sudah lah Ge, aku tidak apa-apa kok. Jangan buat masalah dengan mereka.!” Lala merengsek bangkit dari jatuhnya.

“Anak seperti mereka ini harus diberi pelajaran, La’. Kalau kita tetap diam saja mereka pasti akan selalu menganiaya kita dan teman-teman yang lain.!” Kataku sedikit menoleh ke arah Lala dan menunjuk keseluruh teman yang masih ada di tangga.

Kemudian mereka pun semakin dekat denganku.

“Kalian masih berani sama kita. Dasar anak haram.!”  Katanya menantang

Ucapan seperti itulah yang sangat aku benci. Dia malah mengucapakan itu kembali padaku.

Seketika Aku langsung mengerang, tangan mengepal.

“Aku bukan anak haram..” Spontan aku melayangkan tinjuku ke arah salah satu tubuh mereka bertiga.

Namun sebelum tinjuku tepat mengenai tubuhnya, tiba-tiba Lala berteriak.

“Jangan, Gea.!” Ia mendorong tubuhku. Membuat tinjuku meleset dari sasaran. Meskipun tinjuku tidak mengenai mereka. Tapi seketika aku langsung ternganga. Karena Vava, Tirta dan Barka, terhempas dari hadapanku sejauh  lima meter, berhenti membentur tembok.

“Perasaan tanganku tidak menyentuh sama sekali salah satu dari tubuh mereka, tapi mengapa mereka bertiga bisa terlpental sejauh itu.” Pikirku kebingunan sambil membolak-balik telapak tangan.

“Gawat ini, Ge. Kamu bikin masalah lagi dengan mereka. Mereka pasti akan membalas perbuatmu ini. Terus apa yang harus aku lakukan jika nantinya mereka membalas atas perlakukanmu ini, Gea.! ”  Ujar Lala, nampaknya dia jufa tidak mau mempunyai urusan dengan trio biang kerok itu.

Aku tidak menghiraukan perkataan dari sahabatku itu, masih terdiam sambil membolak-balik telapak tanganku. Tanpa sepengetahuanku tiba-tiba ia berjalan menghapiri mereka bertiga yang kesakitan karena tubuhnya membentur tembok.

“Kalian tidak apa-apa.!” Ujar Lala mencoba membantu.

“Tidak usah bantu aku. Aku bisa berdiri sendiri.!” Kata Vava cetus menolak pertolongan dari Lala.

Kemudian Vava, Tirta, dan Barka bangkit sambil menunjuk ke arahku. “Awas, akan aku balas apa yang telah kamu lakukan pada kami, Gea.!” Lalu mereka beranjak pergi.

Aku tidak menghiraukan ancamannya. Meskipun mereka mengancaman seperti apapun kepadaku. Aku tidak akan pernah takut kepada anak seperti mereka, jika aku merasa berada di posisi yang benar. Toh sedangkan juga mereka beraninya hanya keroyokan untuk melawan lawannya.

“Hae, Lala.! kenapa kamu sudi-sudinya membantu orang yang telah membuatmu terjatuh.” Kataku.

“Biarpun begitu mereka tetap teman kita bukan.? Siapa tau dia tadi berlari hingga menabrak aku, karena dia terburu-buru mendengar bel sekolah berbunyi.! Jadi aku anjurkan ke kamu jangan main pukul sendiri semua permasalahan pasti bisa diselesaikan dengan secara kekeluargaan. Untung mereka tidak kenapa-kenapa.! ” Ujar Lala.

“Kenapa  kamu malah membela mereka sih, La’.!” Ujarku.

“Bukan membelanya.” Katanya singkat.

“Terusa apa kalau tidak membelanya.!” Tanyaku.

“Jika kita masih bisa berteman dengan mereka kenapa kita harus selalu berseteru dengan mereka dan semoga saja trio biang kerok itu bisa menjadi teman bahkan sahabat kita. Sudahlah tidak usah dipikirkan. Yang penting sekarang kita menuju ke lapangan upacara.” Lala merangkulku kemudian berjalan bersamaan.

Aku, Lala dan bersama teman-teman yang lain kembali berbondong-bondong, berjalan bersama menuju ke lapangan upacara. Mereka berjalan sambil berbincang satu dengan yang lain. Yang bikin aku merasa aneh, kenapa tidak ada satu pun komentar dari teman-teman yang lain atas kejadian tadi. Seakan-akan mereka tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Atau jangan-jangan memang benar seluruh teman-teman disini tidak ada yang berani dengan trio biang kerok itu.

Sebenarnya ingin sekali aku mengerahkan seluruh teman untuk mengerjai si trio biang kerok itu agar mereka tidak berbuat semena-mena terhadap kita. Coba, satu kelas saja mau bersama-sama membuat trio biang kerok itu jera. Pasti mereka bertiga pun tidak akan berani kepada kita.

“Oh Iya, Gea. Omong-omong kamu belajar pukulan itu dari mana kok mereka sampai terpental sejauh itu.”

“Aku juga tidak tahu, La’. Saat tadi kamu mendorong tubuhku, perasaan tanganku ini sama sekali tidak menyentuh tubuh mereka. Tapi kenapa mereka bisa terpental sejauh itu.” Aku penasaran.

“Pasti kamu mempunyai kekuatan super. Hehehe.”  Lala bercanda.

“Entahlah.” Jawabku singkat.

Hingga tak terasa kami telah tiba di lapangan upacara dan upacara bendera pun akan segera dilaksanakan. Kemudian kami masuk ke dalam barisan sambil membawa lipatan bendera di pangkuan tangan.

….

 

Satu jam berlalu

Upacara bendera pun telah berjalan dengan lancar, seluruh siswa berbondong-bondong kembali memasuki ruangan kelasnya masing-masing. Tidak terkecuali seluruh teman sekelasku yang telah mendapat tugas untuk menjadi petugas upacara. Mereka telah memasuki kelas, duduk di bangkunya masing-masing.

“Gimana ini, Gea. kamu belum mengerjakan tugas dari ibu Nova.!” Kata Lala sambil kipa-kipas tubuh menggunakan telapak tangan karena kepanasan setelah menjalankan upacara bendera.

“Yang pastinya nanti aku akan mendapat hukuman darinya. Heheheh…!” senyumku

“Kok kamu tenang-tenang saja sih, Gea.!” Serunya.

“Terus aku harus bagaimana. Dan kenapa juga aku yang tidak mengerjakan tugas, tapi kamu yang menghawatirkannya. Sudah lah kamu tenang saja, La. Biar ini menjadi pelajaran buatku.” Kataku menenangkannya.

Hanya dengan hitungan beberapa detik saja setelah aku berkata seperti itu. ibu Nova pun tiba. Menghentikan kegaduhan di dalam kelas.

“Selamat pagi anak-anak.”  Salam ibu Nova, berjalan ala tren delapan puluhun

“Selamat pagi, ibu..!” jawab serempak teman-teman satu kelas.

“Nah, anak-anak sekarang keluarkan dan kumpulkan segera PR kalian.” Ujar ibu Nova menarik kursi, lalu mendudukinya.

Ini yang tidak habis aku pikir. Kenapa hal pertama setelah salam yang diingat oleh ibu guru satu ini selalu PR. Padahal dalam hatiku ini mengharapkan ia lupa akan tugas yang telah diberikannya untuk kami. Namun, kenyataannya terbalik dengan harapanku.

Seluruh teman sekelas mengambil buku PR dari dalam ranselnya. Satu persatu, secara bergantian mereka semua maju ke depan, mengumpulkan buku PR-nya. Tidak terkecuali juga dengan sahabat yang duduk sebangku denganku ini yaitu Lala. Ia juga telah berdiri, beranjak mengumpulkan buku PR-nya ke depan.

“Siapa yang belum mengumpulkan.” Kata ibu Nova setelah seluruh siswa sekelas mengumpukan PR-nya.

Mendengar kata dari ibu Nova, aku pun sedikit ragu untuk mengacungkan tangan. Tapi apa boleh buat, aku tetap akan bertanggung jawab atas kesalahan yang telah aku perbuat sendiri. Kenapa juga aku harus lupa untuk mengerjakan tugas darinya. Padahal, hari minggu kemarin lebih banyak waktu aku isi dengan melakukan hobiku yaitu memanah, hingga aku lupa dengan semua hal yang bersifat akan merugikan diriku sendiri. Ya inilah yang namannya penyesalan, pasti datangnya belakangan.

Dan dengan terpaksa akhirnya  aku pun mengacungkan tangan.

“Gea, kamu tidak mengerjakan PR.!” Kata cetus ibu Nova

“Iya,i bu’.!” jawabku menganggukan kepala, menurunkan kembali tangan

“Kamu tau apa itu PR.?”

Aku hanya diam, menunduk. Aku sadar bahwa aku salah dan pasrah, siap mendapat sebuah hukuman, sambil menerka-nerka hukuman apa yang akan diberikan buatku. Apakah aku harus membersihkan toilet sekolahan atau berdiri di depan kelas berakhirnya mata pelajaran tersebut. Atau mungkin juga aku disuruh untuk menulis kaliamat, seperti. “aku tidak akan mengulingai kesalhanku ini” beribu-ribu kalimat hingga satu buku tulis penuh. Ah, apapun itu hukumannya, yang pasti aku akan mendapat hukuman darinya.

“Untuk kamu, Gea. Sekarang kamu keluar dari ruangan segera kerjakan PR-mu, kalau nanti sudah selesai silahkan kembali lagi ke kelas ini. Mumpung ibu masih berbaik hati denganmu.” Ujar ibu Nova.

Seketika aku langsung menghela napas, lega mendengarnya. Aku tidak mendapat hukuman yang begitu berarti, hanya saja disuruh untuk mengerjakan di luar kelas, PR yang belum aku kerjakan.

Sebelum melihat ibu Nova semakin marah terhadapku. Aku pun langsung beranjak dari bangku berlahan keluar dari kelas. Tugas yang seharusnya dikerjakan di rumah. Tapi malahan aku kerjakan di luar kelas. Untung saja semua murid telah memasuki kelasnya masing-masing, di luar susana lengan,  jadi tidak membuatku begitu malu apa yang telah aku perbuat. Kebayang kan jika banyak siswa yang lalu-lalang melawati dan melihatku sedang mengerjakan PR di depan kelas, itu pasti sangat memalukan bukan.!

Perlahan aku mengerjakan beberapa soal yang cukup susah bagiku. Dari penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, aku hitung dengan cara sangat manual yaitu hanya dengan menggunakan kesepuluh jari kedua tanganku. Terkadang juga memukul-mukul kepalaku sendiri dengan pensil jika mendapat soal yang tidak sama sekali aku mengerti. Hingga tiba dititik jenuhku, akhirnya aku memutuskan untuk mengerjakan di kantin sekolahan.

“Dari pada aku mengerjakan PR di sini mendingan aku di kantin. Mengerjakan tugas sambil minum es teh manis. Siapa tahu di sana ada kakak kelas yang bisa membantu untuk mengerjakannya.” Pikirku.

Kemudian aku beranjak. melangkahkan kaki menuruni anak tangga, menelusuri koridor, melewati lorong. Kantin sekolah berada di lantai bawah, di belakang bangunan tepat dekat parkiran sepeda.

Beberapa saat kemudian tiba di depan kantin. Ternyata mataku langsung dikejutkan oleh trio biang kerok yang telah saling duduk berhadapan dengan mengangkat sebelah kakinya di atas bangku.

“Woe kalian.! Kenapa kalian tidak mengikuti pelajarannya ibu Nova.! Malahan nongkrong di sini.” Ujarku.

Seketika membuat mereka bertiga menoleh ke arahku sambil menggebrakan tangannya ke atas meja.

“Dasar anak haram. Kamu mau mengadukan kami ke ibu Nova. Atau kamu ke sini memang mau mengajak berantem lagi dengan kami.!” kata Vava menghampiriku dengan diikuti Barka dan Tirta.

“Ih, siapa yang mau ngajak berantem sama kalian. Toh setiap kali kalian berantem, kalian beraninya hanya keroyokan.!” Aku menyeringai.

“Aku tahu. Atau jangan-jangan kamu mendapat hukuman dari ibu Nova. Karena tidak mengerjakan PR.” Sahut Tirta menujukku.

Sontak membuat mereka bertiga langsung menertawaiku setelah mendengar kata Tirta.

“Iya, pasti dia ini tidak mengerjakan PR, lalu ibu Nova menyuruhnya keluar dari kelas.! Hahaha..!” Barka menertawaiku.

Sungguh sangat menyebalkan sekali mereka bertiga ini. Apa sih yang mereka inginkan terhadapku sampai-sampainya mereka bertiga selalu memanggilku dengan sebutan anak haram. Kok tidak ada kapok-kapoknya, padahal setiap berkelahi, mereka tidak bisa mengalahkanku meskipun aku sendirian melawan tiga orang sekaligus.

“Terus kalian  sendiri di sini ngapain.!” Aku mengangkat dagu, menggertak.

“Memang apa masalahmu kalau kami di sini. Mau berada di mana suka-suka kita dong, iya kan coy.!” Kata Vava.

“Yoi.. coy..!” kata serempak Barka dan Tirta.

Jujur aku semakin geram melihat perilaku mereka, namun aku mencoba tidak menghiraukannya soalnya masih ada hal yang lebih penting yang akan segera aku selesaikan . Kemudian Kaki melangkah dan tangan menyibak tubuh mereka.

“Minggir..!” Ujarku.

Ketika mencoba melewatinya kakiku tersandung dengan kaki salah satu dari mereka hingga aku terjatuh.

“Aduh..!” lutut membentur lantai dan tangan mencoba menahan beban tubuhku.

Entah mereka sengaja atau tidak, yang jelas mereka langsung tertawa tebahak-bahak sambil menujuk ke arahaku.

“Rasakan. Itu belum seberapa apa yang telah kamu perbuat kepada kami tadi.! Ayo teman-teman kita pergi dari sini, aku sudah mual dengan anak ini.!” Seru Vava.

Lalu seketika mereka beranjak pergi meninggalkanku.

Aku menggerutu, apa lagi telinga ini kembali mendengar kembali perkataan itu dari mulut trio biang kerok itu.! Itu semua sungguh sangat menjengkelkan.

“Awas akan aku balas apa yang telah kalian lakukan terhadapku ini.!” pikirku sambil mengelus lutut yang terasa nyeri. Lalu aku langsung berdiri, meraih kursi, kemudian memesan minuman untuk mendinginkan merdam emosiku sambil mengerjakan beberapa soal yang belum selesai.

lima belas menit berlalu

Akhirnya aku menyelesaikannya juga tugas dari ibu Nova. Entah salah atau benar yang penting aku telah menyelesaikanya. Seketika, aku langsung menenggak es teh manis yang telah aku pesan tadi hingga habis, lalu setelah itu, beranjak kembali ke kelas.

Aku melangkahkan kakiku, yang ternyata terasa sangat nyeri sekali. Ini pasti efek dari benturan tadi. Hingga membuat lututku terasa nyeri begini. Namun aku tidak menghiraukan, terus melangkah, berjalan terpincang-pincang menuju kelas.

Hingga kemudian tiba di depan kelas.

“Permisi.!” Sapaku mengetuk, membuka pintu kelas.

“Sudah selesai PR kamu, Gea..!” kata ibu Nova.

“Sudah, ibu.!” Aku mengangguk, berjalan menuju meja ibu Nova untuk mengumpulkan buku PR yang sampulnya berwarna coklat ini.

“Kenapa kaki kamu. Kok jalan kamu terpincang-pincang gitu.” Kata ibu Nova.

“Oh ini..! Tadi aku terjatuh, bu’. Jadi  lutu kanantku sedikit terasa sakit,” Ujarku.

“Makannya kalau jalan yang hati-hati.! ya udah sana kembali ke tempatmu.!” Ibu Nova menerima buku PR ku.

Kemudian aku melangkah menuju ke tempat dudukku.

“Lama sekali kamu ngerjainnya, Gea.!” Kata Lala.

“iya. ada beberapa soal yang tidak aku mengerti sama sekali, itu pun aku kerjakan dengan asal-asalan..!” keluhku.

Kemudian aku duduk. menundukan kepala. membuka rok yang menutupi lutut. Ternyata lututku sebelah kanan terlihat memar dan bengkak.

“La’ coba lihat lututku ini.” Ujarku.

“Astaga, kenapa lututmu. Ini pasti sakit sekali, Gea.!” Tanya Lala mau menyentuh dengan ujung jarinya.

“Waooo.. sakit, Lala.!” Tanganku menepis tangang Lala.

“Maaf.!” Spontan Lala menarik tangannya kembali. “Memangnya apa yang telah terjadi pada dirimu tadi, Gea.!”

“Tadi aku ketemu dengan tiro biang kerok itu.!” Ujarku sambil kembali menutup lututku.

“Kamu berkelahi dengan mereka lagi.!” Tanya Lala

“Tidak.” Aku menggeleng. “Nanti saja aku ceritakan.”

Kemudian dengan seksama aku memperhatikan ibu Nova yang menerangkan pelajarannya ke setiap siswa.

Sungguh aku tidak habis pikir. Kenapa Vava, Tirta dan Barka berkelakuakn seperti itu. Banyak sekali peraturan-peraturan sekolah yang mereka langgar. Cara berpakain mereka terlihat acak-acakan bahkan terkesan norak. Bukannya berpakain rapi adalah salah satu peraturan dari sekolahan?  Dan tadi juga mereka tidak mengikuti upacara bendera lalu sekarang mereka tidak mengukuti pelajaran yang sedang berlangsung. Sebenarnya jika aku melihat potensi mereka bertiga, menurutku mereka anaknya cukup pandai dan pintar. Apalagi Tirta. Ia selalu menyelesaikan terlebih dahulu setiap soal yang dikerjakan jika sedang menghadapi ulangan harian maupun ujian semester. Bahkan nilainya terkesan tinggi, pasti nilainya di atas nilai tujuh. Tapi yang jadi pertanyaanku “Apakah pergaulan di luar yang mempengaruhi hingga menyebabkan mereka seperti itu, sampai terbawa di lungkungan sekolah? Atau mungkin bisa jadi dari pihak keluarganya yang tidak mau tahu tentang dirinya.!” Pikirku menyelidik.

Pelajaran matematika masih berjalan. Suasana di dalam kelas lengang, semua siswa terdiam. Hanya diisi dengan suara dari bicara Ibu Nova yang sedang menerangkan dan menulis materi pelajarannya di papan tulis. Sesekali juga ada beberapa siswa yang mengacugkan tangan, bertanya karena belum mengerti. Sedangkan, terlihat dari kaca cendela kelas, di luar mendung tebal kehitaman terlihat begulung-gulung terbawa angin perlahan menutupi cerahnya langit di siang hari dengan diringi suara guntur bergemuh. Menurut ramalan para ahli meteorology sebenarnya bulan-bulan sekarang ini masih dalam musim kemarau yang kering dengan matahari begitu terik. Tapi kenapa tanpa ada ramalan apapun, tiba-tiba mendung tebal membungkus cerahnya langit.?

Hanya dengan hitungan detik, cerahnya Langit pun berubah menjadi gelap.

Lalu seketika, kilatan petir menyambar bersamaan dengan suara menggelegar begitu kencang membuat seluruh murid terkaget, menutup telingannya, lalu disusul begitu saja oleh guyuran hujan, mengguyur begitu desar.

(to be continue)

Supriyanto
(Penulis : Supriyanto)

(Beatabit|Bumi Dan Penghuni 2)

Share This:

Related posts

Tinggalkan Balasan