bumi dan penghuniBeat a Fict 

Bumi Dan Penghuni 1

(Beat a fict|Bumi Dan Penghuni) Hembusan angin dipagi hari membuat hawa terasa dingin sekali. Mata masih terpejam, mulut menguap, tubuh menggeliat, sukar sekali untuk bangkit dari tidur. Melainkan tangan ini langsung menarik selimut yang telah berantakan di bawah kaki hingga menutup ke atas kepala, melanjutkan mimpi yang tertunda.

Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara pintu terbuka. Terdengar hentakan langkah kaki memasuki dan menyibak gordeng jendela kamarku.

“Gea, bangun Ge.!” Wanita berparas cantik dengan usia tiga puluh tujuh tahun membangunkanku, duduk di sebelahku lalu membuka selimut yang menutupi kepalaku.

Iya, ia adalah mamaku tercinta yang benama Widia.

“Nanti aja  mah.!” Aku memicingkan mata. Berpaling, Menutup kembali kepala dengan selimut yang telah dibukanya.

“Eh, kapan.! Ini sudah jam setengah enam dan sebentar lagi matahari akan terlihat! Ayo cepat bangun.!” Lalu mama berdiri sambil menyibak secara paksa selimut yang menutupi kepala hingga ujung kaki, terbuka. Seketika itu hawa dingin langsung menyergap tubuhku.

“Ih, mama.!” Aku menyeringai dalam kantukku.

Aku pun perlahan bangkit dari tidurku, bangun dengan bantuan mamaku. Kemudian aku berjalan bergontai tak terarah, menguap sambil menguce-ucek mata menuju ke kamar mandi.

Perkenalkan sahabat. Nama aku Gea Widia Pradipta biasa dipanggil Gea. Aku adalah gadis remaja berambut hitam, lurus dan panjang. Usiaku empat belas tahun baru naik ke kelas delapan. Aku bukan anak yang pintar, apa lagi populer di sekolahan. Aku hanya kenal teman-teman sekelas. Nilaiku rata-rata, tidak ada yang terlalu cemerlang, kecuali nilai mata pelajaran olahraga. Semenjak sekolah dasar sampai sekarang, jika setiap kali pembagian Raport pasti nilai tertinggiku adalah mata pelajaran olahraga. Karena aku sangat menyukai pelajaran tersebut. Belajar di luar ruangan adalah sesuatu hal yang sangat menyenangkan bagiku. Memang, pelajaran terlihat seperti bermain-main, tapi. Sangat penting bagi seluruh organ tubuh kita.

Bahkan bisa dikatakan aku menyukai seluruh cabang olahraga seperti basket, badminton, volly, renang dan sebagainya. Namun diantara sekian banyak dari cabang olahraga, ada satu olahraga yang sangat aku sukai yaitu panahan. Entah apa yang membuatku menggemari olahraga tersebut, yang jelas aku merasa ada kepuasan tersendiri jika aku melakukannya olahraga tersebut.  Sampai-sampai orang tuaku membuatkan papan sasaran atau papan target untuk memanah di halaman belakang rumah agar  aku bisa mencurahkan hobiku itu setiap kapan pun. Bahkan sepulang sekolah aku lebih banyak meluangkan waktu untuk memanah. Mengarah bidikkan anakpanah ke papan target, itu lah sesuatu hal yang  sangat menyenangkan bagiku.

satu lagi, perawakanku tidak jauh beda dengan gadis remaja yang lain. Namun aku merasa ada yang beda pada diriku. Entah ini karunia dari Tuhan atau memang dari mana. semenjak kecil aku mempunyai kekuatan bisa mengendalikan setiap benda yang aku pandang. Aku bisa mengambil sesuatu benda meskipun dengan jarak yang tidak bisa aku gapai. Tinggal memandangi dan menjulurkan tangan dengan sendirinya benda tersebut terbang secepat kilat bisa aku raih. Dan kelebihan pada diriku ini tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya.

Sewaktu aku masih berusia tiga tahun mama menggendongku, aku memandangi dan mengarahkan tanganku ke arah dot susu yang berada di atas meja memintanya agar mama mengambilkan untukku, selangkah mama hendak mengambilnya secara tiba-tiba dot susu tersebut melayang secepat kilat mengenai kepala mamah. Sontak membuatku yang berada pelukan mama tertawa terpingkal melihatnya.

Aku tinggal serumah dengan mama, nenek dan kakekku, Tapi.! dari kecil hingga saat ini aku tidak pernah tahu siapa sebenarnya ayahku. Setiap kali aku menanyakan itu semua pasti mamaku menjawab. “Belum saatnya kamu mengetahui siapa ayah kamu sebenarnya.!” Aku rasa, setiap anak kalau mendengar jawaban seperti itu dari orangtuanya pasti akan merasa kecewa.  Setidaknya itulah yang aku rasakan.

….

Hari ini adalah hari senin. Di mana kegiatan upacara bendera pasti dilakukan setiap sekolah di seluruh nasional. Hari ini giliran dari kelasku yang mendapat tugas dari sekolah untuk menjadi petugas upacara bendera sedangkan aku sendiri menjadi pengibar bendera.

Waktu menunjukan jam setengah tujuh pagi.

Aku telah mengenakan seragam sekolahku yang berwarna atas putih bawah putih, lalu kemudian keluar dari kamar menuju ke meja makan. Seperti hari-hari sebelumnya pasti aku melihat kakek dan nenek selalu duduk berdampingan terlebih dahulu berada di sana, dan seperti biasa aku duduk tepat di depanya, sedangkan mamaku pasti masih sibuk menyiapkan sarapan untuk kami. Sambil menunggu mamaku datang membawa sarapan untuk kami, aku pun selalu mencoba  menanyakan siapa ayahku kepada nenek dan kakeku.

“Kakek. Nenek.! Sebenarnya siapa sih ayahku.!” Tanya ku sambil memajukan tubuh menempel di bibir meja.

“Haha..! sampai bosan setiap kali mendengar  pertanyaan dari kamu seperti itu, Gea.!” jawaban seperti itu lah yang selalu aku terima dari nenek dan kakekku. Sepertinya mereka selalu menyembunyikan tentang ayahku.

“Sudahlah, Ge.! Tidak usah bertanya itu lagi.! kalau sudah waktunya nanti juga pasti tahu sendiri siapa ayah kamu sebenarnya.!” Mama datang membawa hidangan makanan. “Ayo makan.”

Aku menyeringai sambil meraih piring dari tumpukan paling atas. Mengambil nasi dan hidangan yang baru saja disajikan oleh mamaku.

“Jangan lupa berdo’a dulu sebelum makan.” Mama mengingatkanku.

“Iya mah..!” aku mengangguk seraya menadahkan tangan.

Sebelum memulai aktifitas di hari ini, alangkah menyenangkannya jika makan pagi bisa dirasakan bersama-sama oleh setiap anggota keluarga.  Kumpul bersama, bercanda di meja makan sebelum memulai aktifitasnya masing-masing adalah salah satu momen yang tak akan terindah. Setidaknya hal seperti itulah yang aku lakukan bersama dengan mama, kakek dan nenekku disetiap pagi. Meskipun demikian, tetap saja perasaanku masih ada sesuatu yang terasa ganjil, ya mungkin itu karena tidak adanya kehadiran seorang ayah di tengah-tengah kita.

Aku menyantap dengan lahap hidangan makanan yang diracik secara khusus oleh mama. Hingga membuat cita rasa masakan mama begitu lezat. Sangking lezatnya, terkadang aku menambah porsi makan untuk kedua kalinya. Sesekali juga mama, kakek dan neneku menanyaiku tentang apa saja. Tentang pelajaran di sekolah, tentang teman-temanku dan masih banyak lagi pertnyaan yang selalu di lontarkan kepadaku desela-sela makan bersama.

“Oh iya, Gea. kemarin kamu bilang bahwa hari ini kamu mendapat tugas menjadi pengibar bendera.!” Tanya mama sebelum memasukan sesendok nasi ke mulutnya.

Aku hanya mengangguk, mulut masih mengunyah.

“Ya udah kalau gitu, cepat habiskan makananmu biar mama bisa mengantarmu secepatnya, nanti kamu terlambat lagi.” Seru mama.

“Iya mah.” Aku kembali mengangguk,

Hingga beberapa saat kemudian, makan pagi pun selesai.

Mama mengantarku ke sekolah dengan mengendarai motor maticnya. Itulah kegiatan setiap pagi dari mama untukku. Mulai dari membangunkanku, menyiapkan makan, sampai mengantarkanku ke sekolah. Dari itulah setiap kali mama marah aku tidak berkutik. Lebih baik aku memilih untuk diam. Karena aku mencoba untuk mengerti bahwa mama yang telah mendidik dan membesarkanku tanpa bantuan dari seorang ayah, Meskipun mama selalu menyembunyikan tentang siapa ayahku.

Mama langsung menyalakan motornya. “Ayo naik, Gea.!”

Aku langsung naik ke atas motor, tangan memeluk pinggangnya.

Lalu kemudian mama menancap gas motornya. Melaju menelusuri jalan diantara pengendara lainnya dengan kecepatan sedang. ia sangat lihai sekali mengendari. Membanting stang, menekan tombol klakson, meliak-liuk kekanan dan kekriri menghindari laju motor yang menghadangnya dan tak jarang juga aku sering menggoda mamaku sendiri.

“Ayo mah kebut terus. Jangan sampai aku terlambat masuk sekolah.” Tanganku meraih, memeluk erat pinggangnya.

“iya, Ge. Pegangan yang erat, Gea.!” Mama menancapkan gas motornya semakin cepat.

Di belakang punggungnya aku tersenyum, sangat bangga sekali dengan mamaku ini. “kenapa tidak.” selain sebagai ibu rumah tangga ia juga bisa menjadi seorang ayah. Ia yang selalu mendidik dan membesarkanku hingga saat ini.

Hingga beberapa saat kemudian, akhirnya tiba di depan sekolahanku. Seketika mama menarik rem secara mendadak, sontak membuat tubuhku langsung ambruk ke punggung mama.

Aku  turun dan mencium tangannya.

“Aku belajar dulu ya, mah.!” Ujarku.

“Iya, Gea. Ingat jangan sampai bikin onar lagi di kelas.! Mama  tidak mau dipanggil kepala sekolah untuk kesekian kalinya. Karena waktu kamu kelas tujuh sudah membuat mamamu ini menghadap kekepala sekolah untuk kedua kalinya. Jadi sekali lagi, mama tidak mau itu terulang lagi untuk yang ke tiga kalinya” Nasehat mama sebelum aku beranjak melewati gerbangsekolah..

“Ok mah.!” Kataku sambil menemukan ujung jari telunjuk dengan jempol hingga menjadi lingkaran mengarah ke mamaku.

“Ya udah kalau gitu, mama balik dulu.” Kemudian mama kembali memutar gas motornya, putar balik. meninggalkan aku.

“Da..dah. mama.!” Aku melambaikan tangan.

Benar sekali yang dikatakan mamaku tadi. Kepala sekolah telah memanggilnya untuk kedua kalinya, semua itu karena ulahku dengan kasus yang sama yaitu berkelahi. Berkelahi sekaligus dengan tiga cowok yang selalu membuat masalah denganku. Mereka bernama, Tirta, Barka dan Vava. Mereka bertiga ini yang selalu menjadi biangnya kerok, selalu bikin onar bahkan memalak temannya sendiri sampai-sampainya seluruh siswa di sekolahan ini tidak ada yang berani dengan mereka,“kecuali aku.!” Sebenarnya bukan hanya dua kali saja aku berkelahi dengan mereka,  entah puluhan kali, entah ratusan kali, pokoknya sering sekali aku berkelahi dengan mereka. Bahkan setiap kali bertemu hawanya ingin sekali menghajar  mereka bertiga hingga lenyap dari muka Bumi ini. Karena mereka tahu kalau aku tidak mempunyai ayah. lalu dengan seenaknya mereka selalu mengataiku dengan sebutan anak haram.“Anak mana yang tidak kesal jika selalu dipanggil seperti itu.!”

Aku berjalan diantara kerumunan siswa yang masuk melewati gerbang. tiba-tiba teman sebangku dan juga sebagai sahabatku yang bernama Lala berteriak memanggilku dari ujung jalan.

“Gea..!” panggilnya melambaikan tangannya.

Sontak membuat langkahku terhenti dan menoleh kearahnya membalas lambainnya.

Seketika Lala langsung berlari kearahku.

Perkenalkan sahabat. Di sekolahan ini Lala Suryaningsih adalah satu-satunya sahabat sejatiku. Sahabat yang selalu bersama. Sahabat yang selalu mengisi kekosongan. Sahabat yang saling membutuhkan dan saling melengkapi. Sahabat yang sering menasehati satu dengan yang lain. Sahabat yang selalu memberi masukan yang sangat positif. Sahabat yang saling memberi motivasi. Entah apa jadinya jika diri ini tanpa Lala di sekolahan ini.

“Eeh, Gea. Kamu sudah mengerjakan PR Matematika.!” Kata Lala dengan nafas sedikit terengah.

“PR Matematika.!” Kataku bertanya-tanya.

“Iya PR Matematika. PR yang diberikan oleh ibu Nova hari sabtu kemarin lusa.” Ujarnya mengingatkanku.

“Astaga..!” Aku menepuk dahi. “Sungguh, aku benar-benar lupa. Apakah kamu sudah mengerjakannya.! ”

“Sudah sih.! Tapi ada beberapa soal yang tidak aku mengerti. Kalau kamu mau mengerjakan sekarang, nyontek aja punyaku.” Ujarnya.

“Kalau aku mengerjakan sekarang meskipun nyontek milik kamu, Mana sempat.! Sebentar lagi kan bel masuk akan segera berbunyi. Sedangkan hari ini kita menjadi petugas upacara bendera.” Keluhku

“Terus bagaimana dong, Ge.! Nanti pasti ibu Nova akan menghukumu, jika kamu tidak mengerjakan tugas darinya.” Seru Lala.

“Apa boleh buat La’. Kamu kayak tidak tahu saja ibu Nova itu orangnya seperti apa.! Kemarin lusa kamu juga pasti tahu kan, kalau ada salah satu teman kita yang datang terlambat.!” Kataku mengingatkan.

“Iya.!” Lala mengangguk

“Coba bayangkan, terlambat tiga menit saja untuk masuk kelas dia tidak boleh mengikuti pelajarannya. Apa lagi yang tidak mengerjakan tugasnya seperti aku. Pasti akan mendapat hukuman lebih berat darinya.! Ya sudah lah. Biarkan ini menjadi pelajaran buatku. Jadi agar aku lebih bisa mengingatnya lagi jika mendapat tugas darinya. Jadi sekarang tidak usah kamu pikirkan. Mendingan kita ke kelas bersiap-siap untuk menjalankan upacara bendera.”  Aku  langsung merangkul Lala berjalan menuju ke kelas.

Seperti ini lah persahabatan kita. Saling menghibur dan saling melengkapi. Ibaratkan seperti bolam lampu yang senantiasa menerangi sebuah ruangan. Jika aku yang menjadi ruangannya Lala pasti akan menjadi lampunya dan sebaliknya jika Lala yang menjadi ruangan aku yang meneranginya.

Langkah Kami berjalan seirama, melewati halaman sekolah, mennelusuri koridor, kemudian menaiki anak tangga. Langkah demi langkah, akhirnya kami tiba di kelas. Kelas delapan B terletak di lantai dua bangunan sekolah.

Suasana terdengar riuh di dalam ruangan kelas. Ternyata semua teman sekelasku telah mempersiapkan semua yang di perlukan untuk kegiatan  di hari senin ini.

“Selamat pagi semua.!” Sapa kami bersamaan melangkah melewati pintu kelas.

“Pagi..!” jawab serempak para teman se kelas yang sibuk mempersiapkan untuk kegiatan upacara.

Aku dan Lala meletakkan ransel di atas meja bersamaan. Lalu ikut menyiapkan segala keperluan untuk kegiatan upacara bendera.

(to be continue)

Supriyanto
(Penulis : Supriyanto)

(Beatabit|Bumi Dan Penghuni)

Share This:

Related posts

Tinggalkan Balasan